Di ujung jukung

Pagi menjelang siang seperti hangat menuju gerah.

Di Wana Segara Kertih – Kedonganan,

Menanti pasangnya air untuk bisa menaiki jukung, sekitar 45 menit penantian sambil melahap nasi jinggo dan melihat anak – anak sedang bermain sepakbola. Tidak lama kemudian, mereka selesai bermain dan menyerbu warung tempatku menanti. Mereka berlarian, berebutan, berteriak di waktu bersamaan untuk membeli makanan dan minuman dari satu warung yang hanya dilayani oleh seorang ibu, sepertinya pemilik warung. Suasana sekejap berubah dari hangat kalem menjadi gerah yang penuh kebisingan, haus dan lapar menyatu dalam teriakan mereka.

Mengisi beberapa formulir tentang data pribadi dan asuransi bila terjadi hal – hal yang tak diinginkan *dalam perjalanan.

Akhirnya, level air mulai naik dan dengan beberapa langkah tanpa alas kaki yang dipenuhi lumpur mangrove, naiklah kami di jukung (kapal kayu tradisional). Angin dari segala penjuru seakan menyapa, semakin kencang laju jukung, semakin kencang tiupan angin. Bersemangat setiap kali tatapanku bersenandung dengan deburan air. Berdiri di ujung jukung selalu menjadi tempat yang paling disukai dari dulu… seperti tanpa batas hanya ada bebas.

Kami menuju laut yang berada di bawah jalan tol. Biasanya saat berkendara di jalan tol, aku selalu melihat ke awan – awan dan sesekali sekilas ke bawah melihat ada beberapa kapal nelayan yang lalu lalang. Dan kali itu, aku menggenapi keinginanku yang sejak lama mendekam di kepala. Salah satu bucket list di tahun 2022 🙂

Sambil menikmati laju jukung, jepret menjepret. Lalu di tengah – tengah, mesin jukung sengaja dimatikan sekitar 20 – 30 menit untuk beristirahat di atas jukung tanpa mendengar suara mesin. Aku, pemandu, nelayan saling bercerita tentang bagaimana pandemi berkeliaran mengubah jadwal pekerjaan, tentang para nelayan memancing ikan – ikan, bagaimana penanaman mangrove serta segala percakapan acak dengan orang – orang asing tanpa perlu menghiraukan kehidupan pribadi masing – masing. Begitu nyaman dan penuh keseruan.

Selama perjalanan sekitar dua jam, aku merasakan penyertaan Sang Pencipta yang sangat hebat. Apa yang dirasakan seperti kepingan kenangan yang pernah kurasakan dulu, tetap menyenangkan dan akan selalu berkesan. Semoga lautan dimanapun kakiku menyentuh, kuharap kita saling menjaga satu sama lain.

-ie-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s