Apa Adanya

Menyayangi diri seutuhnya tidaklah mudah. Selalu ada kurang atau kadang lebih kadarnya dalam memposisikan rasa sayang terhadap diri kita.

Ada keinginan untuk memperlakukan diri yang kemaren menjadi hari ini. Dari yang hari ini menjadi esok. Seperti ada bayangan diri yang terus menemani namun kadang mendorong untuk melangkah lebih jauh.

Bayangan itu di waktu tertentu merasa lelah mengikuti, kadang menempel di bagian belakang tubuh dan diri kita menampungnya sehingga pundak terasa kaku dan berat.

Namun… Benarkah untuk menyayangi diri harus merasa terbebani?

Benarkah untuk menjadi versi terbaik dalam hidup, harus perlu banyak syarat?

Bukankah menyayangi diri adalah sebuah kebebasan yang memberi jalan keluar untuk sanggup melewati semuanya dengan baik dan damai dengan keadaan?

Di detik ini, aku sadar bahwa menyayangi diri adalah memeluk hangat kebebasan dan menjadi diri apa adanya.

Ketika kecewa, tak apa bila bersedih. Ketika tersakiti, tak apa bila menangis. Ketika kesepian, tak apa bila berdiam atau bahkan menjerit sekencangnya. Ketika dihibur, tak apa bila memberi ruang. Ketika merasa baik, berbagilah kebaikan. Dan ketika semua yang dirasa terjadi di waktu bersamaan, teguklah dan peluklah.

-ie-

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s