Dua Panah

Jangan katakan dusta pada langit apalagi sampai bumi menangkap sinyal itu. Karena hanya tiga dari lima belas peserta yang mampu lolos pada babak ini. Ini adalah putaran ke tujuh, putaran akhir untuk dapat terpilih sebagai penyandang cinta. Rahasia ini harus disembunyikan dari langit dan bumi.

Aku yang tak tersebutkan identitasnya, hanya berdasarkan lambang dan warna. Aku menjadi salah satu dari antara mereka. Tergabung menjadi satu demi melupakan masa lalu dan menyongsong masa depan. Memalingkan diri dari sebuah kenyataan dan membalikkan segalanya menjadi kesempatan. Gelar ini adalah tujuan akhir dan semuanya mempunyai peluang sama untuk meraihnya.

Kali ini, hutan belantara adalah medan kompetisi. Pepohonan tinggi menyergap, kami berpencar dan menyesatkan diri di antara lebatnya hutan. Terlihat daun-daun kering berserakkan tebal di tanah, mungkin sudah ratusan tahun berguguran. Suara-suara asing memadati gendang telinga. Langit terlihat mendung dan udara semakin lembab, merangsang haus tanpa perlawanan.

Air hujan menyerbu, secepat kilat. Langkah terhenti. Bimbang antara berteduh atau menikmati fenomena ini. Menengadah ke atas, seakan kurelakan air hujan menjadi obat dahaga. Meneguk dan untuk pertama kalinya merasakan keutuhan rasa air hujan.

Keadaan semakin tak bersahabat, semakin larut dan hilang dari peredaran. Entah dimana peserta lainnya, aku merasa seorang diri. Menapak pelan karena genangan lumpur. Seperti tempurung yang ingin berlindung dari dinginnya malam.


Tak jauh, nampaklah sinar dari arah barat. Kudekati, terlihat sebuah tenda dengan sinar bias. Tanpa ragu, kubuka tenda itu dan masuk. Ada secarik kertas dan pensil menempel di sudut tenda, lalu kubuka kertas itu, tertulis:
‘Alaminya, engkau berada di alam terbuka. Sejatinya, hatimu mempunyai ruang untuk diisi. Pastinya, pencapaian sampai saat ini karena sebuah harapan akan kebahagiaan. Entah rasanya tawar seperti air putih, pahit seperti kopi hitam ataupun percampuran dari semua rasa yang menyebabkanmu berada di sini, saat ini. Kau hanya perlu paham bahwa semua percobaan yang telah dilewati adalah penyamaran. Karena surat inilah yang menjadi jawaban dari gelar yang selama ini ingin diraih. Pada akhirnya adalah bagaimana kau dapat kembali ke tempat awal sebelum semuanya terlambat. Bila engkau mampu bereaksi dengan tepat terhadap pertanyaan ini, maka cinta selamanya menjadi milik orang yang mampu memahami situasi dan menemukan jalan untuk kembali.’

Tanganku gemetar, nafas tak karuan dan penat mengepung. Semuanya menjadi tanda tanya baru. Sungguh, jika aku harus kembali dengan mengulang semuanya, aku tak mampu mengingat satu per satu jalan yang telah terlewati untuk sampai berada di babak ini, gemingku…

Terdiam. Mataku tertutup rapat tapi tidak dengan pikiranku, masih mencoba menemukan isyarat. Mengamati gambar lambang dan warna identitasku selama ini. Kuamati logam ini, berbentuk bulat dan di tengahnya terdapat dua panah yang saling beradu atas dan bawah dengan warna merah sebagai dasarnya. Dua panah ini seakan melambangkan awal dan akhir, pergi dan kembali seperti yang tertulis di kertas itu.

Aku tersenyum gila akan pemikiran ini. Dengan jauhnya perjalanan ini dan hanya ini yang kudapatkan? “Aku tak rela!”, geramku dalam hati.

“Hai, anak muda, masihkah engkau di dalam?”, tiba-tiba teriakan itu mengejutkanku
Kulihat sosok bapak tua dengan jenggot putih dan uban di rambutnya. Aku masih terdiam, menatapnya tajam.

“Pencarianmu telah usai. Pulanglah ke tempatmu berasal karena seorang penyandang cinta pasti mengetahui arah dan tujuan selanjutnya. Kau telah berhasil meraih gelar ini tanpa harus ada pengakuan dari orang lain. Karena setiap pencapaian dalam hidupmu, hanya dirimulah yang dapat menghargainya. Pencarianmu adalah kepuasanmu. Usahamu adalah bagian dari pencapaian. Maka dengan begitu, kembalilah menjadi dirimu yang utuh. Kelak kau akan mampu memaknai arti setiap perjalanan yang telah kau lalui dalam hidup.”, ucap Bapak itu lalu pergi
…..

Kepalaku tertunduk, mungkin…. mungkinkah ini yang selama ini kucari?”, tanyaku dalam hati, sambil mengamati lambang dua panah dan menyeka air mata, tersenyum kecil.

Bali 2016
-ie-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s